Dari Desa Balongpanggang ke Lulusan Terbaik FIP: Kisah Fang Menemukan Makna dan Menaklukkan Diri Sendiri

Dari Desa Balongpanggang ke Lulusan Terbaik FIP: Kisah Fang Menemukan Makna dan Menaklukkan Diri Sendiri

PGSD – Perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana awal. Hal itulah yang dialami Ahmad Zahidin Al Faruq, atau yang akrab disapa Fang, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.

Lahir pada 19 Januari 2004 dan berasal dari Desa Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Fang mengawali kuliahnya bukan dengan keyakinan penuh. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi dokter hewan. Namun keputusan keluarga membawanya masuk ke dunia pendidikan.

Pada semester awal, ia menjalani perkuliahan dengan kemampuan akademik yang baik, bahkan tergolong dominan di kelas. Namun jauh di dalam dirinya, ia belum sepenuhnya menerima pilihan tersebut. Ia menjalani, tetapi belum menghidupi.

“Titik balik itu datang di semester tiga,” ungkap Fang.

Sebuah mata kuliah membuka cara pandangnya. Ia mulai berdamai dengan keadaan dan menyadari bahwa mungkin ia tidak melihat dirinya sebagai guru kelas, tetapi ia tetap memiliki tempat di dunia pendidikan. Ia menemukan panggilan baru: menjadi “gurunya guru SD”, seorang dosen.

Kesadaran itu membangkitkan kembali minat lamanya pada dunia penelitian. Semasa SMP, Fang pernah dua kali meraih penghargaan Karya Tulis Ilmiah tingkat kabupaten. Ia menyadari bahwa passion tersebut tidak pernah hilang, hanya tertutup waktu.

Namun perjalanan menuju penerimaan diri tidaklah mudah. Tantangan terbesarnya bukanlah akademik, melainkan melawan ego dan kekecewaan dalam diri sendiri. Dukungan dari para dosen seperti Ibu Dekan Cicilia, Bapak Andika, dan Bapak Pangestu menjadi penguat mental di masa-masa sulitnya. Begitu pula teman-teman seperjuangan yang menjadi keluarga di tanah perantauan.

“Titik balik itu datang di semester tiga,” ungkap Fang.

Sebuah mata kuliah membuka cara pandangnya. Ia mulai berdamai dengan keadaan dan menyadari bahwa mungkin ia tidak melihat dirinya sebagai guru kelas, tetapi ia tetap memiliki tempat di dunia pendidikan. Ia menemukan panggilan baru: menjadi “gurunya guru SD”, seorang dosen.

Kesadaran itu membangkitkan kembali minat lamanya pada dunia penelitian. Semasa SMP, Fang pernah dua kali meraih penghargaan Karya Tulis Ilmiah tingkat kabupaten. Ia menyadari bahwa passion tersebut tidak pernah hilang, hanya tertutup waktu.

Namun perjalanan menuju penerimaan diri tidaklah mudah. Tantangan terbesarnya bukanlah akademik, melainkan melawan ego dan kekecewaan dalam diri sendiri. Dukungan dari para dosen seperti Ibu Dekan Cicilia, Bapak Andika, dan Bapak Pangestu menjadi penguat mental di masa-masa sulitnya. Begitu pula teman-teman seperjuangan yang menjadi keluarga di tanah perantauan.

Momentum besar datang ketika Fang lolos Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2024. Dari sana, ia menekuni dunia edupreneur dan game development dengan membangun startup Gu Ru Studios serta mengembangkan RPG Carya Quest, sebuah game pembelajaran matematika untuk siswa sekolah dasar.

Kesempatan demi kesempatan terus terbuka. Ia menjadi pemateri dalam berbagai pelatihan dan seminar nasional, mengikuti program AWMM UB 2024 di Universitas Brawijaya, hingga merasakan pengalaman pitching di hadapan angel investor. Bersama timnya, ia bahkan meraih predikat tim dengan video demo day terbaik.

Di tengah kesibukan akademik dan non-akademik, Fang memegang satu prinsip sederhana: kerja pintar. Ia menekankan efektivitas, manajemen waktu yang disiplin, serta memilih kegiatan yang selaras dengan visi jangka panjangnya.

Ketika akhirnya dinobatkan sebagai lulusan terbaik FIP dan Prodi PGSD, yang ia rasakan bukan sekadar kebanggaan, melainkan rasa syukur mendalam. Baginya, penghargaan tersebut adalah simbol kemenangan terbesar: kemenangan melawan diri sendiri.

“Anyone can be anything, you can be everything, People only judge you form your past, But no one knows what’s in your mind, UNTIL YOU DO IT” pesannya kepada teman-teman dan adik tingkat. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki potensi besar yang hanya perlu ditemukan dan diperjuangkan. Fang menuturkan bahwa orang mungkin menilai dari masa lalu kita, tetapi tidak ada yang benar-benar mengetahui isi pikiran dan rencana kita sampai kita membuktikannya. Ia mengajak generasi muda untuk menjadikan keraguan dan cacian sebagai bahan bakar perjuangan.

“Saat diremehkan, cukup katakan dalam hati, ‘Is that all you got? Okay then, guess it’s my turn,’ lalu balas dengan pencapaianmu,” ujarnya penuh keyakinan.

Ke depan, Fang bertekad melanjutkan studi ke jenjang S2 dan mewujudkan cita-citanya menjadi dosen. Ia ingin terus meneliti, berinovasi, dan berkontribusi bagi dunia pendidikan.

Baginya, kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjuangan yang lebih besar. Karena terkadang, mimpi memang berubah bentuk, tetapi tidak pernah kehilangan makna selama kita berani memperjuangkannya.

Pendaftaran Mahasiswa baru dapat melalui link berikut: https://pmb.unikama.ac.id/

info lebih lanjut : Follow akun Instagram FIP @fip.unikama atau Tiktok @fip_unikama

Scroll to Top